ADB High-Level Event COP 26, Sri Mulyani: Asia Tenggara Berisiko Besar Terpapar Perubahan Iklim

- Kamis, 4 November 2021 | 09:11 WIB
Dalam sesi ADB High-Level Event COP 26, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan Asia Tenggara berisiko besar terpapar dampak perubahan iklim. (tangkap layar/instagram @smindrawati )
Dalam sesi ADB High-Level Event COP 26, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan Asia Tenggara berisiko besar terpapar dampak perubahan iklim. (tangkap layar/instagram @smindrawati )

 

SANGALU—Menteri Keuangan, Sri Mulyani, hadir pada hari ketiga COP 26 di Glasgow, Scotlandia, dalam sesi ADB High-Level Event COP 26 Financing Green Recovery for a Low-Carbon and Climate-Resilient Southeast Asia: Announcement of Support for ASEAN Green Recovery Platform.

Dalam sesi ADB High-Level Event COP 26 ini, Sri Mulyani, menyebut Asia Tenggara memiliki potensi sebagai kawasan paling cepat berkembang.

Namun, kata Sri Mulyani, Asia Tenggara juga menjadi wilayah yang memiliki risiko besar terpapar dampak perubahan iklim tersebut.

 Baca Juga: Jalin Kerja Sama dengan Pemkot Bekasi, Anies: Sudah Sepatutnya Berkolaborasi, Hadirkan Manfaat Untuk Warga

“Jika upaya mewujudkan ekonomi hijau tidak tercapai, maka pertumbuhan ekonomi yang bergerak cepat tetap akan sia-sia karena dikalahkan oleh cepatnya dampak climate change,” ujar Sri Mulyani di hari ketiga COP 26 di Glasgow, di akun Instagram Sri Mulyani Indrawati @smindrawati yang diunggah pada Rabu 3 November 2021.

Sri Mulyani mengatakan, pembiayaan  pun menjadi salah satu poin penting untuk mempercepat transisi energi menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, kata Sri Mulyani, Indonesia menyambut baik inisiatif Asian Development Bank (ADB) dalam mengembangkan ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF).

Baca Juga: Di Forum COP 26 Glasgow, Basuki Hadimuljono Sampaikan Permasalahan Air di Indonesia

Inisiatif ADB dalam ACGF ini bertujuan untuk mengkatalisasi pembiayaan hijau.

Indonesia sendiri telah menetapkan Peraturan Presiden mengenai instrumen nilai ekonomi karbon yang akan mengatur mekanisme karbon.

Selain itu, kata Sri Mulyani, Energi Transition Mechanism (ETM) yang diinisiasi Indonesia dan ADB juga diharapkan dapat mendukung proses transisi energi yang lebih cepat.

Baca Juga: September Sampai Maret Waktu Telur Menetas, Berikut Cara untuk Cegah agar Ular Tak Masuk ke Rumah

“Saya berharap ACGF dapat menjadi kekuatan ASEAN untuk mempercepat upaya pemulihan ekonomi dari pandemi dan isu perubahan iklim menuju pemulihan hijau,” tulisnya di akun instagramnya @smindrawati. ***

Halaman:

Editor: Haris Ladici

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X